Persepsi Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Lahan Sawah Untuk Budidaya Bunga Sedap Malam (Studi Kasus Di Dusun Rembang II Desa Rembang Kec. Rembang Kab. Pasuruan)

Herianto Kurniawan, Bagyo Yanuwiadi, Soemarno Soemarno

Abstract


Bunga sedap malam tanaman asli dari Mexico merupakan bunga yang unik dan dikenal semua lapisan masyarakat. Keunikanya yaitu mekar pada malam hari dan baunya wangi. Bunga sedap malam varietas Roro Anteng berkembang pada tahun 1921 di Kecamatan Bangil dan Rembang. Masyarakat Indonesia mengenalnya bunga petik untuk ritual dan bunga potong untuk pengharum ruangan atau bunga hias. Penelitian ini mengambil populasi yaitu petani Rembang II. Sampelnya Kelompok Tani Bunga Sedap Malam Dusun Rembang II berjumlah 30 responden.  Penelitian ini mendeskripsikan persepsi petani terhadap budidaya bunga sedap malam, serta menganalisa pemanfaatan lahan sawah. Penelitian kuantitatif ini dengan klasifikasi data, tabulasi dan presentase data menggunakan excel, dengan analisis pendapatan serta analisis kualitas SDM. Geografis Dusun Rembang terletak 4 – 7 m dpl. Mayoritas kondisi lahan sawah Rembang tadah hujan. Persepsi  masyarakat umumnya bahwa lahan tersebut kering serta kandungan air tanahnya rendah dan tidak dapat ditanami. Ketika musim kemarau lahan sawah menjadi retak, keretakan  kurang lebih lima sentimeter. Dampak keretakan mengakibatkan tembok rumah menjadi retak serta jalan beraspal menjadi bergelombang. Kondisi ini dimanfaatkan petani untuk membudidayakan bunga sedap malam sedangkan pengolahannya dibutuhkan pengairan minimal 6 jam setiap minggu menggunakan pompa air. Petani mengoptimalisasikan lahan sawahnya dengan pola tanam antara bunga sedap malam dengan padi. Petani menanamnya secara bergantian dengan sistem rotasi tanam yaitu sepanjang tahun dan pergantian musim. Budidaya bunga sedap malam dapat meningkatkan pendapatan petani.

Kata kunci:  Bunga sedap malam, Persepsi masyarakat, Pemanfaatan lahan sawah


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.